Mengapa cerita horor selalu disukai orang

Foto: Enrique Meseguer dari Pixabay

CERITA anda berpeluang disukai orang, dan menjadi cerita laris, jika anda pandai menakut-nakuti mereka dengan hantu atau makhluk supernatural apa pun yang menyeramkan. 

Anda boleh menghadirkan hantu-hantu lawas seperti jelangkung, suster ngesot, kuyang, kuntilanak, sundel bolong, arwah penasaran, dan sebagainya; anda boleh juga menceritakan hantu-hantu baru ciptaan anda sendiri: kucing hantu, gerobak hantu, topeng hantu, boneka yang hidup pada tengah malam dan meneror penghuni rumah, atau apa pun bentuknya asalkan ia hantu.

Sejarah keberhasilan berbagai jenis novel dan film horor bisa anda ulangi terus-menerus, sebab manusia memiliki tabiat unik dalam soal hantu-hantuan ini. Mereka suka menghibur diri dengan hal-hal yang menyeramkan. Mereka membeli tiket, masuk ke ruang gelap, menjadi tegang dan merinding oleh adegan-adegan di layar, dan begitu pertunjukan selesai dan lampu-lampu ruangan dinyalakan, mereka akan merasa puas dan tertawa-tawa dan saling menceritakan teror yang mereka rasakan sepanjang film.

“DNA kita menyukai cerita seram,” kata Mathias Clasen, seorang peneliti dari Denmark dan penulis buku Why Horror Seduces. “Penelitian saya menunjukkan bahwa, dalam konteks evolusi, kita mencari kesenangan dalam situasi yang memungkinkan kita mengalami emosi negatif secara aman. Anda bisa melihat unsur horor ini dalam permainan anak-anak. Ambil contoh petak umpet, yang merupakan simulasi interaksi predator-mangsa.”

Dia mencatat bahwa nenek moyang kita di Afrika Timur hidup di sabana selama ribuan tahun, dan dalam rentang waktu yang panjang itu mereka harus terus-menerus siap menghadapi bahaya. Rasa takut dan kehati-hatian menjadi kunci untuk bertahan hidup. Kita merasa jijik pada daging yang membusuk dan menyebabkan penyakit; itu refleks keamanan. Dan untuk menghindari dimangsa, kita harus punya rasa takut terhadap hewan buas dan bergigi tajam. 

Gen kita belum sempat berubah sejak saat itu. Akibatnya, menurut teori Clasen, rasa takut terhadap kebusukan dan gigi tajam telah menjadi bagian dari materi genetika kita. Itu sebabnya kita sekarang takut pada vampir dengan gigi runcing dan pada zombie, bangkai hidup yang membusuk. Kita takut pada pemangsa.

Dalam konteks ini, cerita horor berfungsi sebagai simulator emosi. Melalui cerita horor, kita mendapatkan pengetahuan, dan mampu memahami, perasaan takut dan semua emosi yang berkembang oleh perasaan takut itu, tanpa kita perlu mengalami sendiri berhadapan dengan makhluk yang menyeramkan.

Dan sesungguhnya semua cerita, tidak hanya horor, adalah simulator emosi. Dalam pertunjukan dua jam saja, misalnya, kita bisa memahami emosi seorang pemuda yang ayahnya dibunuh oleh pamannya dan ibunya diperistri oleh si pembunuh. Tidak ada satu orang pun menginginkan situasi sendiri seperti itu demi mendapatkan emosi tertentu. Tetapi kita bisa memahami emosi gelap manusia dalam situasi itu, dan bisa ikut merasakannya, melalui drama Hamlet.

Di luar faktor genetika, proses di dalam otak membuat orang menyukai cerita horor. Otak memerlukan ketegangan untuk melepaskan endorfin (baca: Sains di balik Storytelling), dan ketegangan, situasi yang menekan, teror, membuat orang penasaran untuk menemukan akhir yang memuaskan. 

Nah, anda siap menghibur orang? Buatlah mereka ketakutan. Tulis cerita horor yang luar biasa menakutkan. Hadirkan teror yang paling mengerikan. Dan tulis sebaik-baiknya. Ketika anda menawarkan simulator emosi, anda perlu menyediakan simulator yang baik.[*]

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Cerita Hantu: Surat buat Nararya Narajati

Sains di balik storytelling

Mengenal Jyoti Amge, pemeran Ma Petite, perempuan terkecil di dunia versi Guinness