Sains di balik storytelling
![]() |
| Foto: Candelario Gomez Lopez dari Pixabay |
MARI membicarakan cerita secara saintifik. Pertama-tama, cerita adalah mesin pembangkit emosi. Reseptor di otak kita akan bereaksi terhadap kalimat-kalimat yang kita dengar atau kita baca, dan otak akan memaksa kita untuk terus mengikuti cerita atau, sebaliknya, memperingatkan kita untuk berhenti.
Memahami sains di balik cerita dan tahu bagaimana memanfaatkannya untuk membangkitkan emosi pembaca akan menjadi pengetahuan penting bagi penulis. Ia akan membuat kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk menjadi pencerita yang lebih baik.
Setiap pencerita yang baik tahu cerita seperti apa yang akan membangkitkan reaksi emosional yang ia inginkan. Ia juga tahu bagaimana membuat pembaca terpikat dan tetap mengikuti cerita sampai akhir.
Dalam tinjauan sains, semua reaksi emosional itu berkaitan dengan proses kimia di dalam otak. Otak kita akan melepaskan hormon-hormon tertentu, dan tiga yang berkaitan dengan ketertarikan orang terhadap cerita adalah dopamin, oksitoksin, dan endorfin.
Dopamin
Dopamin dikenal sebagai hormon "merasa-baik". Ia memberi anda rasa senang dan motivasi untuk melakuka sesuatu ketika anda merasa senang.
Ketika anda melakukan sesuatu yang menyenangkan, otak anda melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Anda merasa senang dan mencari lebih banyak perasaan itu. Anda termotivasi dan fokus.
Suspens atau ketegangan di dalam cerita dan rasa penasaran akan membuat pembaca sulit berhenti membaca. Itu karena otak melepaskan dopamin, yang akan membuat kita merasa fokus dan termotivasi untuk mencari tahu akhir ceritanya seperti apa.
Jika cerita kita tidak merangsang otak melepaskan dopamin, pembaca tidak akan merasa senang, bosan, dan tidak termotivasi. Artinya, ia akan berhenti membaca.
Maka, ketika anda menulis cerita, anda harus membuat otak pembaca melepaskan dopamin. Anda harus membangun ketegangan, mempercepat cerita, dan memasukkan detail yang relevan sebanyak mungkin. Pastikan bahwa cerita anda mampu membuat pembaca fokus dan termotivasi untuk mengetahui kelanjutannya.
Buat pembaca penasaran sebagaimana Syahrazad dalam Kisah Seribu Satu Malam membuat raja Syahriar penasaran dengan menunda penyelesaian pada saat sang raja di puncak rasa ingin tahu tentang ujung ceritanya.
Oksitosin
Oksitosin merupakan salah satu hormon otak yang paling kuat. Ia bertanggung jawab atas ikatan sosial dan sering disebut sebagai "hormon cinta."
Membangkitkan oksitosin melalui cerita dapat membantu menumbuhkan kepercayaan pembaca kepada anda.
Salah satu cara alami untuk merangsang otak melepaskan oksitoksin adalah dengan mengungkapkan sesuatu yang pribadi tentang diri anda.
Itu sebabnya banyak orang menyukai tulisan yang bersuara intim, atau narator yang pintar meledek dirinya sendiri.
Anda perlu melatih diri sungguh-sungguh untuk menjadi mahir dalam taktik ini. Mengungkapkan sesuatu yang bersifat pribadi memerlukan takaran yang tepat, dan meledek diri sendiri tentu saja memerlukan kecakapan. Mark Twain dan Gabriel Garcia Marquez ahli dalam urusan ini.
Endorfin
Hormon endorfin berfungsi mengurangi rasa sakit, meminimalkan ketidaknyamanan, dan meningkatkan kesenangan.
Teknik untuk merangsang otak melepaskan endorfin adalah dengan memberinya cerita cerdas, elegan, dan berwawasan. Tulisan-tulisan yang meditatif juga membantu merangsang endorfin.
Teknik lainnya adalah membuat orang tertawa.
Ini salah satu teknik terbaik untuk bercerita. Dan pendongeng yang baik akan mampu menyisipkan humor pada waktu yang tepat dan mengeksekusinya secara benar.
Anda perlu berlatih keras untuk membuat orang tertawa, setidaknya jika anda percaya kata-kata Mark Twain: "Menulis adalah urusan sulit, dan menulis humor adalah yang paling sulit."
*
Jadi, urusan saintifik anda sekarang adalah menulis cerita yang mampu merangsang otak pembaca melepaskan dopamin, oksitoksin, dan endorfin, Anda perlu membuat pembaca penasaran, tersentuh, dan tertawa. Charles Dickens ahli dalam urusan itu.[*]

Comments
Post a Comment