Tiga Cerita Hantu: Surat buat Nararya Narajati
A.S. Laksana
![]() |
| Foto oleh Stefan Keller dari Pixabay |
DEAR Nara, beberapa hari lalu kamu ketakutan. Kamu menyukai film horor, senang mendengar orang bercerita tentang hantu-hantu, dan kamu menjadi sering ketakutan. Dengan demikian, kita sama.
Beberapa bulan lagi umurmu dua belas tahun. Pada waktu aku seumurmu, aku juga senang mendengar cerita hantu, dan menjadi penakut—sampai dewasa.
Aku takut pada rumah tua. Aku takut pada pohon-pohon besar. Aku takut gelap. Setiap malam tiba, aku berpikir ada hantu di mana-mana. Tetapi aku tetap senang mendengar cerita hantu.
Ya, cerita hantu memang menyenangkan.
Sekarang, aku juga akan menyampaikan kepadamu cerita tentang hantu-hantu. Tiga cerita hantu. Silakan membacanya bersama Kakak Raya dan Mas Karebet, agar kamu bisa membaca surat ini dengan perasaan tenteram. Mari kita mulai.
Arwah Gentayangan Suzzanna
Pada 2008, di Magelang, Jawa Tengah, seorang penjual nisan bernama Ahmad Junaedi mengaku melihat arwah perempuan cantik. Perempuan itu baru meninggal seminggu sebelumnya. “Dia berdiri di depan saya sambil tersenyum,” katanya.
Ia mengaku melihat arwah Suzzanna. Beberapa orang lain juga mengaku melihatnya. Suzzanna adalah bintang film yang dikenal sebagai ratu film horor Indonesia. Ia tinggal di Magelang. Sebagai bintang film, ia banyak berperan sebagai hantu atau perempuan siluman. Suzzanna pernah menjadi sundel bolong, Nyi Blorong, Nyi Roro Kidul, dan lain-lain.
Waktu itu, film-film Indonesia belum menampilkan jelangkung, hantu pocong, atau suster ngesot.
*
Banyak cerita horor bermunculan setelah Suzzanna meninggal. Orang mengatakan Suzzanna suka makan bunga melati dan gemar berpuasa dan sering mendengar bisikan dari langit.
Setahun setelah kematiannya, orang mengembangkan cerita baru tentang arwah Suzzanna. Seorang wartawan menulis bahwa arwah Suzzanna gentayangan karena suaminya menikah lagi. Orang mendapatkan bahan baru untuk bergunjing tentang artis yang menjadi hantu.
Begitulah, orang-orang selalu menyukai cerita hantu dan kita sering mendengar cerita-cerita hantu yang seperti itu. Orang-orang yang sudah meninggal muncul sebagai arwah dalam penampilan seperti ketika mereka masih hidup. Ada juga hantu yang muncul dengan seragam tentara zaman dulu atau dalam kondisi terakhir ketika dia meninggal. Biasanya, jika hantu dikabarkan muncul di suatu tempat, kita beranggapan ada orang mati di tempat itu.
Masalahnya, kita tidak pernah bisa menguji apakah hantu itu benar-benar ada atau tidak. Para wartawan yang menuliskan berita itu pun tidak melihat sendiri. Mereka mendengar orang bercerita, dan menulis apa yang mereka dengar, tidak peduli bahwa cerita itu cuma karangan.
*
Cara kerja para wartawan memang aneh soal hantu-hantu.
Untuk menulis berita-berita lain, wartawan biasanya akan berusaha meminta pendapat orang yang terlibat dalam satu peristiwa. Mereka juga meminta pendapat para ahli. Tetapi untuk menulis berita tentang hantu, mereka percaya begitu saja apa pun yang dikatakan oleh sembarang orang—satpam, penjual rokok, tukang nasi goreng—dan menuliskan cerita karangan itu sebagai berita.
Cara seperti itu tampak jelas, misalnya, pada saat mereka melaporkan rumah hantu Pondok Indah.
*
Pada 2002, muncul cerita tentang rumah hantu di Pondok Indah, sebuah perumahan mewah di Jakarta Selatan. Para wartawan berdatangan ke sana. Mereka menanyai satpam, tukang kebun, penjual rokok, tukang nasi goreng, paranormal, dan siapa saja yang punya cerita tentang hantu penunggu rumah itu.
Dari berita-berita yang mereka tulis, kita mendapatkan cerita tentang pembunuhan terhadap satu keluarga oleh perampok. Mereka warga negara asing yang menyewa rumah itu. Peristiwa terjadi pada 1983. Tujuh orang meninggal, termasuk anak-anak dan satu orang pembantu. Tujuh orang itu kemudian menjadi hantu, tetapi hantu yang baik.
Seorang satpam mengatakan bahwa yang suka mengganggu adalah hantu-hantu yang bertamu ke rumah itu. “Teman saya pernah naik motor di depan rumah itu pada tengah malam. Ia memboncengkan istrinya. Tahu-tahu istrinya hilang. Lalu ia memutar balik motornya dan mendapati istrinya pingsan di depan pintu gerbang rumah,” kata satpam itu.
Cerita pembunuhan juga disampaikan oleh seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan paranormal. Ceritanya sama dengan yang dituturkan oleh si satpam: tujuh penghuni rumah menjadi hantu, tetapi tidak jahat. Yang jahat adalah hantu-hantu dari luar. Si paranormal mengaku sempat bercakap-cakap dengan ketujuh hantu penghuni rumah.
“Mereka penasaran atas pembunuhan yang dilakukan terhadap mereka,” kata paranormal itu.
*
Dari semua cerita tentang rumah hantu Pondok Indah, yang paling aneh adalah cerita hilangnya tukang nasi goreng. Wartawan mendapatkan cerita ini dari seorang satpam juga. Si Satpam mengaku melihat tanah di pekarangan rumah itu merekah, dan dari rekahan itu muncul ular besar yang segera membelit tukang nasi goreng dan menariknya ke dalam tanah.
Akhirnya terbukti bahwa semua cerita itu bohong belaka. “Tidak pernah ada pembunuhan,” kata orang yang sudah sejak 1978 tinggal di dekat rumah itu. Polisi juga mengatakan tidak pernah ada kasus pembunuhan terhadap penghuni rumah itu.
Yang terjadi di sana adalah urusan utang-piutang dengan bank. Oleh pemiliknya, rumah dan tanah itu dulu dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Pihak bank melelang tanah itu ketika pemiliknya tidak mampu melunasi utang.
Namun, cerita utang-piutang tentu tidak menarik. Orang lebih menyukai cerita hantu ketimbang cerita tentang lelang tanah oleh bank.
*
Meskipun sudah ada penjelasan tentang rumah Pondok Indah itu, cerita pembunuhan terhadap satu keluarga tetap dipertahankan. Pada 2006, muncul film berjudul Rumah Pondok Indah. Perusahaan film menyatakan bahwa film ini dibuat berdasarkan kisah nyata tentang rumah hantu Pondok Indah.
“Dari hasil investigasi kami, di rumah itu benar-benar terjadi pembunuhan dan ada arwah gentayangan,” kata produser film tersebut kepada wartawan.
Sayang tidak ada wartawan yang menanyakan kepada si produser: Kapan investigasi dilakukan? Siapa saja yang terlibat dalam investigasi? Apakah penjelasan polisi salah? Dengan cara apa tim anda bisa memastikan terjadinya pembunuhan itu? Siapa di dalam tim investigasi anda yang bisa melihat arwah gentayangan di rumah itu?
Kadang wartawan adalah orang-orang yang mudah percaya begitu saja pada omongan orang.
Cerita ketiga berikut ini tentang rumah hantu juga, tetapi bukan di Indonesia. Kita bicara tentang rumah hantu yang sangat terkenal di Amerika.
Rumah Hantu Amityville
Kali ini betul-betul terjadi pembunuhan terhadap satu keluarga di Amityville, New York, Amerika Serikat. Peristiwa yang menewaskan enam orang itu terjadi pada 13 November 1974. Ronald DeFeo Jr, 23 tahun pada waktu itu, adalah anak sulung Ronald dan Louise DeFeo. Malam itu ia menembak mati ayah, ibu, dan keempat adiknya pada saat mereka tidur.
Rumah keluarga DeFeo menjadi kosong karena Ronald DeFeo Jr dihukum penjara, dan tetap menjadi penghuni penjara sampai meninggal pada 2021 di sebuah rumah sakit di Albany, New York, dalam usia 69 tahun.
Suami istri George dan Kathy Lutz membeli rumah itu setahun setelah peristiwa pembunuhan dan tinggal di sana bersama tiga anak mereka. Namun, mereka hanya bertahan 28 hari dan menjual lagi rumah itu.
Penghuni berikutnya adalah pasangan Jim dan Barbara Cromarty. Sepuluh tahun mereka tinggal di rumah itu. Selanjutnya keluarga O’Neill, sepuluh tahun juga. Pemilik terakhir adalah Brian Wilson. Brian menyukai rumah itu dan tetap tinggal di sana sampai sekarang.
*
Cerita rumah hantu Amityville dimulai pada 1977 setelah muncul novel berjudul The Amityville Horror: A True Story. Jay Anson menulis novel tersebut berdasarkan cerita yang disampaikan oleh George Lutz, yang hanya sanggup 28 hari menempati rumah itu.
Novel tersebut sangat laris. Ia menceritakan gangguan hantu-hantu jahat penghuni rumah. Mereka merusak pintu, kunci, jendela, dan perabotan. Mereka juga mengganggu semua penghuni rumah. Pastor yang diminta tolong untuk mengusir mereka dibentak: “Keluar!” Dan si Pastor juga merasa ada yang menampar mukanya.
Rumah hantu Amityville semakin terkenal setelah novel itu difilmkan. Sama dengan novelnya, film ini juga laku keras. Setelah itu, ada 15 film lain tentang Amityville. Yang terakhir adalah The Amityville Murders, dibuat pada 2018.
*
Pertanyaannya, apakah novel horor yang dibuat berdasarkan pengakuan George Lutz itu benar-benar kisah nyata?
Sebagian orang meragukannya. Keluarga Cromarty, yang membeli rumah itu dari Lutz, mengatakan tidak pernah diganggu hantu selama sepuluh tahun tinggal di sana. “Tidak ada hantu yang merusak pintu, jendela, dan perabotan. Semuanya masih asli dan belum pernah dirusak,” kata Barbara Cromarty.
Hanya ada satu gangguan yang membuat mereka tidak nyaman tinggal di sana, yaitu hampir setiap hari ada orang-orang datang untuk melihat rumah hantu. Gangguan itulah yang membuat keluarga Cromarty menjualnya.
Dua penghuni berikutnya juga tidak pernah diganggu hantu. Brian Wilson, pemiliknya sekarang, malahan sangat menyayangi rumah itu. Agar rumah itu tidak didatangi orang terus-menerus, Wilson mengajukan izin mengubah alamat rumah tersebut.
*
Pengakuan mengejutkan akhirnya datang dari William Weber, pengacara Ronald DeFeo Jr. Weber mengaku mengarang cerita hantu bersama George Lutz. George Lutz kemudian menyampaikan cerita karangan itu kepada penulis novel Jay Anson.
Tujuan Weber adalah agar Ronald DeFeo Jr mendapatkan hukuman yang lebih ringan. Ia ingin meyakinkan para hakim bahwa Ronald membunuh karena dipengaruhi oleh bujukan hantu-hantu.
Upaya Weber gagal. Ronald sendiri beberapa tahun kemudian mengaku kepada wartawan bahwa ia tidak mendengar suara apa pun yang membujuknya melakukan pembunuhan.
Yang bertahan membenarkan cerita hantu itu hanya George Lutz dan si Pastor. Lutz tidak mau mengakui bahwa cerita itu hanya karangannya bersama Weber. Si Pastor tetap mengaku bahwa dirinya dibentak dan ditampar oleh hantu.
Nara, sementara kuakhiri surat ini. Sampaikan kepadaku jika ada yang ingin kamu tanyakan. Nanti kita lanjutkan lagi cerita hantu kita.[*]




Comments
Post a Comment