Jacobabad, Pakistan, kota yang sekarat, terpanas di bumi tahun ini

Oleh: Raya Sukmojati 

Foto: News24 

JACOBABAD panas, miskin, dan tampak seperti kota yang ditelantarkan. Kota di wilayah selatan Pakistan ini tercatat sebagai kota terpanas di bumi tahun ini, dengan temperatur dan kelembapan yang melebihi kesanggupan manusia untuk menanggungnya. 

Bulan lalu, Mei 2022, suhu tertinggi mencapai 51 derajat Celcius. Ditambah dengan krisis air dan pemadaman listrik 12 hingga 18 jam per hari, kota ini sekarat dan akan menjadi tidak layak huni dalam beberapa tahun ke depan, kata para peneliti.

Bahkan pada pukul tujuh pagi orang sudah bermandi keringat di Jacobabad. Heat exhaustion (kelelahan akibat terpapar panas dengan kelembapan tinggi) dan heat stroke (sengatan panas) adalah masalah sehari-hari di tempat ini. Anak-anak bisa pingsan tiba-tiba dalam perjalanan ke sekolah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Para perempuannya memikul penderitaan lebih berat. 

Sonari di ladang melon saat gelombang panas. Foto: Reuters

Sonari, 20-an tahun, sedang hamil tua saat ini dan tetap bekerja di ladang memetik melon di bawah matahari yang terasa dekat sekali di atas kepala. Waderi, 17 tahun, tetangga Sonari, baru melahirkan beberapa minggu lalu. Ia ke ladang membawa bayinya, membaringkan bayi itu di atas selimut di tempat teduh, buru-buru menyusuinya jika si bayi menangis.

“Saat panas datang dan kami hamil, kami stres,” kata Sonari, sebagaimana dikutip Reuters.

Namun, seperti para perempuan miskin lain di banyak tempat, mereka tak punya pilihan. Para buruh tani lelaki masih punya sedikit “kemewahan” untuk beristirahat pada jam-jam terpanas hari itu, antara pukul dua belas hingga empat sore, dan melanjutkan bekerja pada petang hari. Perempuan tidak mungkin ke ladang pada malam hari. Maka, pada jam-jam terpanas mereka tetap bekerja, dan kemiskinan membuat mereka tidak berpikir mencari perawatan medis jika ada masalah.

Orang-orang Jacobabad tahu apa yang harus mereka lakukan jika ada di antara mereka yang tiba-tiba pingsan oleh sengatan panas. Mei lalu, ketika suhu naik hingga 51 derajat, Hakim Ali, 22 tahun, buruh pabrik es, ambruk kehilangan kesadaran pada tengah hari. Teman-temannya menyiram Ali dengan satu tong air dingin untuk membantu meringankan gejala sengatan panas.

Masalahnya, air semakin sulit. Pemadaman listrik memperparah situasi, kata pejabat setempat, sebab “penyaringan air dan penyalurannya melalui pipa-pipa ke seluruh kota menjadi terhenti.”

Infrastruktur kesehatan dan fasilitas umum di Jacobabad juga tidak siap menghadapi gelombang panas yang berkepanjangan dan makin sering. Pusat penanganan heat stroke, yang didirikan oleh departemen kesehatan setempat dan LSM Yayasan Pengembangan Masyarakat (Community Development Foundation), hanya memiliki empat dipan pasien. 

Biban, sedang hamil, menyiangi rumput di ladang melon. Foto: Reuters

Pemerintah kota tidak memiliki kebijakan yang mengatur kerjasama antara departemen kesehatan dan penanganan bencana, tidak punya rencana membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menghadapi gelombang panas, tidak membuat langkah berarti untuk melindungi orang-orang yang bekerja di luar ruangan seharian.

Muhammad Akbar, 40 tahun, penjual kacang buncis kering, mengatakan bahwa tahun ini panasnya keterlaluan dan datang lebih cepat. “Tiap tahun panas meningkat, tetapi pemerintah, termasuk pemerintah kota ini, seperti tidak peduli,” katanya, dikutip The Guardian

Ia keluar rumah pada pagi-pagi buta, mendorong gerobaknya menyusuri jalanan kering di bawah matahari yang langsung menyengat sejak pagi, dan pulang ke rumah pada petang hari. Setiap hari begitu, bekerja 12-14 sehari, untuk mendapatkan penghasilan 500 rupee per hari atau setara dengan Rp35 ribu. Sudah tiga kali sepanjang hidupnya ia terkena serangan heat stroke.

Para buruh di Jacobabad, sama dengan Akbar, pada umumnya juga bekerja 12-14 jam sehari, berangkat pagi buta dan pulang petang. “Ketika tiba di rumah, kami betul-betul terkuras, tetapi udara panas membuat kami sulit tidur,” kata Mashooq Ali, ketua serikat buruh penggilingan padi. “Kemudian kami keluar rumah untuk mencari angin, dan ketika anginnya tak ada, rasa-rasanya panas ini hendak merenggut nyawa kami.”

Para lelaki mencari angin di atas atap. Foto: Reuters

Jacobabad, kota dengan penduduk 200 ribu orang, adalah tempat yang terkurung daratan. Hawa panasnya menggenang dan pepohonan yang dulu meneduhi kota sudah banyak ditebang, untuk dijual atau dijadikan kayu bakar. Sekarang, kelakar pahit para penghuninya adalah “jika kami ke neraka, kami memerlukan selimut.”

Pakistan dan India mengalami gelombang panas tahun ini sejak awal Maret, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Normalnya, musim panas baru akan dimulai pada akhir Mei.

Jacobabad menjadi salah satu yang paling tercekik oleh musim panas yang datang terlalu cepat ini. Kota ini mengalami gelombang panas ekstrem selama 11 minggu. Temperatur rata-ratanya mencapai 47°C. Stasiun cuaca lokal mendata terjadinya kenaikan suhu mencapai 51°C beberapa kali sejak Maret. Beberapa peneliti mengatakan bahwa kondisi ekstrem ini dapat terjadi selama 10 bulan setiap tahun. 

“Gelombang panas ini senyap. Anda berkeringat, dan keringat anda menguap, tapi anda tidak merasakannya. Air dalam tubuh anda sedang sangat terkuras, tapi anda tidak merasakannya. Anda tidak benar-benar merasakan panasnya, namun tiba-tiba bisa membuat anda pingsan,” kata Iftikhar Ahmed, seorang pengamat cuaca di Pakistan, kepada VICE World News. “Sebelumnya tidak pernah sepanas ini dan dalam waktu yang selama ini. Dan cuaca ini akan bertahan sampai September.”

Jika bumi terus memanas dengan tingkat kecepatan yang tinggi, bukan hanya Jacobabad yang akan mengalami musim panas dengan suhu 50°C. Kita semua akan mengalaminya. Para peneliti memperkirakan kemungkinan peningkatan suhu rata-rata global setidaknya 3°C pada akhir abad ke-21. Itu berarti tiga kali lebih banyak badai, kebakaran hutan, dan gelombang panas. Orang-orang di beberapa tempat tidak akan bisa bekerja di luar, dan akan ada peningkatan kasus heatstroke, penyakit yang terkait dengan cuaca panas, dan kematian.

Di Amerika Serikat, cuaca panas ekstrem sudah menyebabkan lebih banyak kematian daripada peristiwa cuaca buruk lainnya, menewaskan sekitar 1.500 orang setiap tahun. Namun kita masih tidak menganggap panas sebagai bencana alam yang setara dengan gempa atau bahkan serangan teroris. “Panas membunuh lebih banyak orang daripada banyak bencana ini dijadikan satu,” kata Camilo Mora, seorang ilmuwan iklim pada University of Hawaii di Manoa. “Eropa pada 2003 seperti 9/11 terjadi setiap hari selama tiga minggu. Berapa banyak lagi bencana yang harus terjadi sebelum kita mulai menganggap ini masalah serius?”[*]

-------

VIDEO Reuters: "Di kota terpanas di bumi, para perempuan menanggung beban berat perubahan iklim."




Comments

Popular posts from this blog

Tiga Cerita Hantu: Surat buat Nararya Narajati

Sains di balik storytelling

Mengenal Jyoti Amge, pemeran Ma Petite, perempuan terkecil di dunia versi Guinness